Minggu, 20 Desember 2009

ARKEOLOGI

SEPENGGAL PESAN HARTA KARUN

Di PERAIRAN INDONESIA

Pada tahun 1986, didunia digemparkan dengan peristiwa penemuan 100 batang emas dan 20.000 keramik Dinasti Ming & Ching dari kapal VOC Geldennalsen yang karam di Perairan Kepulauan Riau pada Januari 1751. Penemu harta karun itu adalah Michael Hatcher, warga Australia yang menyebutkan dirinya sebagai Arkeolog maritime yang doyan bisnis.

Percetakan Inggris, Hamis Hamilton Ltd, memublikasikan kisah pertualangan dan temuan Hatcher itu dalam The Nacking Cargo (1987). Nanking cargo merupakan sebutan kargo kapal VOC Geldennalsen yang berisi barang – barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC di Nanking, China.

Yang paling terkejut dalam penemuan Hatcher itu adalah Pemerintah Indonesia. Bagaimana, tidak, barang – barang yang dilelang Hatcher di balai lelang Christie – Belanda, senilai 15 juta dollar AS itu ditemukan di perairan Kepulauan Riau.

“Waktu itu, Pemerintah Indonesia merasa kecolongan lantaran Hatcher mengambil harta karun secara illegal atau tidak seizing Pemerintah”.

Bukan itu saja, pada tahun 1999 di Batu Hitam – Bangka Belitung, sebuah perusahaan asing mengambil ratusan batangan emas dan 60.000 porselen China Dinasti Tang yang dilelang senilai 40 juta dollar AS. Setahun kemudian, perusahaan yang diduga dibawah kendali Hatcher mengangkut dan melelang 250.000 keramik China dari Selat Gelas – Bangka Belitung ke Nagel balai lelang Jerman.


PENINGGALAN BAWAH AIR

Indonesia merupakan Negara maritime yang mempunyai kekayaan bawah air. Salah satunya adalah benda – benda berupa keramik, emas batangan, uang logam, guci, gerabah, piring, gelas, mangkuk dan patung yang di temukan dari sisa kapal karam.

National Geographic (2001) menyebutkan 7 kapal kuno tenggelam di perairan Indonesia bagian barat, terutama Selat Malaka, pada abad XVII – XX. Kapal – kapal itu adalah Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (China), Nassau dan Geldennalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis0, serta Ashigara (Jepang).

Hal – hal belum termasuk kapal – kapal dagang abad III – XV yang didominasi saudagar China yang singgah atau berdagang disejumlah pelabuhan pada zaman kerajaan di Nusantara. Misalnya, pendeta China Yijing, mencatat kunjungan ke pelabuhan Sriwijaya pada abad pada abad VII untuk belajar bahasa sangsekerta.

“ Dalam perjalanan, kapal – kapal itu ada yang karam dan tenggelam. Penyebabnya adalah badai di laut, serangan bajak laut, tabrakan dengan kapal lain dan perang “.

Pada tahun 1989, di pulau Buaya – Kepulauan Riau, PT. Muara Wisesa Samudera atas izin Panitia Nasional Pengangkata dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang tenggelam (Panitia Nasional BMKT). Mengangkat 30.000 keramik utuh dan barang – barang dari logam, kayu, dan kaca. Barang – barang yang bersal dari Dinasti Song abad X – XIII itu berbentuk mangkuk, piring, buli – buli, tempayan, cepuk, dadu botol vas dan kendi.

Tahun 2005, PT. Adikencana Salvage atas seizing panitia nasional BMKT mengangkat 25.000 keraik China dan 15.000 porselen zaman Dinasti Ching di Karang dan Teluk Sumpat – Kepulauan Riau. Perusahaan itu juga menemukan koin, peralatan timbangan logam dan tungku China.

Benda – benda juga serupa ditemukan di perairan Kepulauan Seribu – Bangka Belitung, Cirebon dan Kalimantan Barat. Khusus di Kepulauan Seribu, PT. Sulung Segarajaya dan Seabed Explorations, Perusahaan Jerman menemukan 11.000 benda yang terbuat dari aneka logam, seperti emas, perak perunggu dan timah. Temuan itiu berasal dari abad X.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar