Minggu, 20 Desember 2009

INTERMEZZO

CINTAKU DI WC UMUM

Jam dinding di Mushola menunjukan pukul empat kurang lima belas menit. Itu artinya masih ada waktu seperempat jam sebelum acara KISS (Kajian Islam Sabtu Sore) pimpinan tuan muda dimulai.

Kebetulan, pikir Adin. Sejak berangkat dari rumah tadi, perutnya terus menerus memberi sinyal menuntut pengosongan segera. Ini pasti gara – gara bakso mang Ujo’ yang ekstra peda itu. Sudah tahu Adin paling anti dengan sambel. Eh,, dikasih sambal juga. Katanya sich kelupaan. Lupa kok sampe empat mangkok berturut – turut.

Sambil meringis memegangi perutnya, Adin bergegas mencari WC umum disekitar Mushola. Maklum, Mushola mungil ini tidak dilengkapi dengan kamar mandi. Tuan muda memang sengaja mencari kajian yang jauh dari kamar mandi. Katanya sich lebih khusyuk. Soalnya entah mengapa peserta kajian yang kebanyakan remaja seusia Adin itu gemar sekali izin ke belakang kalau sedang ikut kajian. Mau pipis lah,,? Cuci muka lah,,? Cuci kaki lah,,? Bahkan pernah ada yang izin mau cuci mata segala. Terang saja Tuan Muada kesal.

Untung tidak jauh dari situ ada terminal angkot yang cukup besar. Pasti ada WC umumnya, piker Adin. Dalam sekejap, Adin dalam posisi siap mendaratkan sisa makanan diperutnya tepat pada sasaran.

Adin baru sadar, untuk ukuran sebuah WC umum, ruang sempit ini ternyata memiliki sentuhan artistic yang cukup unik. Dindingnya yang kusam dan lumutan dipenuhi coretan – coretan spidol dalam beragam bentuk aragam dan motif. Nggak jelas apa yang mau digambar si pembuat, walaupun Adin sempat menebak beberapa gambar itu adalah wajah wanita, sementara adalah gambar hati.

Coretan – coretan spidol itu penuh banyak tulisan. Kata – kata cintaku, kekasihku, sayangku, love you, miss you, need you mendominasi tulisan – tulisan tersebut beserta nama – nama yang satupun tidak dikenal.

Ada juga coretan yang seolah ingin memamerkan kepiawaian si penulis dalam membuat puisi, seperti “ , , , , , coretan dinding membuat resah / resah sang pencoret begitu parah / tapi lebih resah membaca coretan / sebab coretan dinding adalah keluh kesah / curahan hati dimabuk asmara , , , , , “ .

Adin cumin nyengir melihatnya. Benar kata orang, cinta tidak terbatas ruang dan waktu. Buktinya, ruang yang pengap dan bau seperti ini tidak mapu mencegah orang yang sedang dimabuk cinta untuk menyempatkan diri sekedar menumpahkan isi hatinya.

Iseng Adin apa kira – kira yang mendorong orang ‘Menodai’ dinding yang berdosa ini. Sekedar iseng,,? Mungkin saja. Tapi berapa banyak sich,, orang yang sedang kebelet be abe (Buang air Besar) masih sempat bawa alat tulis untuk coret – coret dinding.

Vandalisme,,?!! Tentu saja. Meski itu tidak menjelaskan kenapa harus ditempat seperti ini. Bukankah masih banyak tempat yang lebih nyaman, wangi dan sejuk untuk menyalurkan naluri kejahilannya.

Yang paling penting menurut Adin adalah sebagai bentuk pamer. Ya,, kenapa nggak. WC umum mungkin salah atu tempat paling buruk di dunia. Tetapi tempat ini paling sering ditongkrongi orang yang berbeda tiap waktu. Tempat sempurna untuk memamerkan secuil karya yang bisa dilihat siapa saja yang kebetulan harus terdampar disini.

Dan mengenai tema cinta yang diangkat,,?! Kalau ini Adin jadi ingat sebuah artikel yang pernah ia baca di Internet. Isinya menceritkan kalau orang yang sedang jatuh cinta itu salah satu peampakannya adalah selalu ingin pamer ke orang lain.

Ini menjelaskan kenapa misalnya orang pacaran merasa bangga menunjukkan pasangannya ke orang – orang. Misalnya dengan selalu jalan bergandengan di tempat – tempat umum atau mengukir nama mereka disebatang pohon di pinggir jalan, biar semua orang tahu kalau mereka tengah memadu kasih (termasuk di WC Umum),,?!!

Nggak Cuma itu, masih menurut artikel tersebut, tak jarang muncul keinginan dari salah satu pasangan untuk memberi ‘Bekas’ kepada pasangannya. Sekedar menunjukan kalo dia pernah jadi miliknya. Biasanya dengan cara menghamilinya atau merebut keperawanannya.

Glek, Adin menelan ludah. Tentu apa yang tertulis di artikel tersebut tidak sepenuhnya benar. Tapi nampaknya gejala seperti ini sudah terlihat dikalangan remaja.

Saat ini, budaya pacaran sudah menjadi symbol eksistensinya diri. Banyak remaja merasa minder kalo tidak pacaran. Merasa malu kalo tidak punya gebetan. Sebagian lagi bahkan merasa bangga bisa pacaran.

Tidak jarang pacaran menjurus pada seks bebas. Ujung – ujungnya, timbul kebanggaan sudah bisa menodai pasangannya. Seperti bangganya orang yang menodai WC umum ini,, Parah,,?!!

Adin jadi ingat kata – kata Tuan Muda. Cinta itu naluriah. Allah menciptakannya ada pada manusia seperti halnya juga pada hewan. Hanya saja Allah menciptakan akal pada manusia yang membedakannya dari hewan. Sehingga manusia yang memenuhi nalurinya tanpa disertai akal sehat, tak ubahnya seperti hewan.

Gaswat, Adin jadi ingat. Dia kan harus segera kembali ke Mushola. Buru – buru Adin mengerjakan ritual pasca be a be. Saking terburu – burunya, hamper saja Adin lupa bayar ‘ Infaq’ kepenjaga WC Umum.

“ Ambil saja kembaliannya, bang”. Adin mengeluarkan recehan sekenanya dari saku celana.

Si abang Cuma bengong melihat kearah Adin yang berlalu. Kemudian matanya beralih ke sekeping uang logam di tangannya. Ini kan pas – pasan, alias nggak ada kembaliannya,,?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar